Minggu, 29 Mei 2016

[Curahan Hati Kepala Sekolah POS PAUD Anggrek IX Bidikmisi]


Assalamualaikum Kakak-kakak semua, selamat berlibur di akhir pekan.

Alhamdulillah akhir-akhir ini BMTD IPB semakin eksis di media sosial sejak diterapkannya komunikasi terpadu dalam menyiarkan info-info seputar BMTD. Untuk itu kami berterima kasih atas dukungan kakak-kakak semua :)

Nah di rubrik kali ini, mumpung akhir pekan kami dari BMTD ingin membuka forum diskusi untuk kakak-kakak semua mengenai lika-liku yang tengah dihadapi BMTD.

Pos Paud Bisikmisi, sebuah pos paud gratis yang digagas oleh Bu Laras, istri dari Pak Erik (Pak RT dari RT 3 Legok Nyenang) Alhamdulillah pada 17 April lalu resmi didirikan. Bekerja sama dengan Bidikmisi Turun Desa IPB, pendirian pos PAUD ini bertujuan agar anak-anak yang dari segi ekonomi belum mendapat kesempatan mengecap masa pendidikan di taman kanak-kanak atau pun pendidikan anak usia dini, bisa ikut menyelami ilmu seperti anak-anak yang lain. Untuk operasional kegiatan belajar dan mengajar pos PAUD yang diberi nama POS PAUD Anggrek IX ini, sebuah ruangan majlis mushalla RT 3 dipilih sebagai lokasi belajar.

Namun dunia tidak akan indah bila dilukis dalam satu warna saja. Beberapa kendala terkadang menghampiri salah satunya dari segi dana untuk peresmian pos PAUD ini. Namun berkat sumbangan dari mahasiswa-mahasiswa IPB Alhamdulillah peresmian pun berjalan lancar dan kami sangat berterima kasih atas bantuan ini. Semoga Allah membalas kebaikan ini dengan berlipat ganda. Aamiin (Info tentang Pos Paud Anggrek IX Bidikmisi bisa dilihat di menu terkait).

Akan tetapi karena menggunakan ruangan mushalla tentu kegiatan operasional memiliki sedikit hambatan. Di beberapa waktu ruangan ini juga digunakan warga setempat untuk mengaji. Walaupun jadwal antara kegiatan operasional PAUD dan pengajian warga tidak bentrok, pernyataan ketidaksetujuan terkadang juga terdengar. Karena itu supaya kegiatan operasional PAUD bisa berjalan dengan lancar, Pak Erik berinisiatif mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk mendirikan bangunan Pos PAUD Anggrek IX Bidikmisi.

Ibaratnya ingin membuat sebuah roti, tepung saja tidaklah cukup. Begitu juga dengan pembangunan pos PAUD ini tidak lah cukup hanya dengan sebidang tanah saja. Karena itu beberapa waktu lalu pihak desa berinisiatif membuat proposal ke pemerintah setempat untuk mendukung pembangunan pos. Kabar yang penulis dapatkan insyaAllah dana ini akan turun tahun depan.

Namun untuk menghindari pernyataan yang kurang menyenangkan, untuk sementara akhirnya kegiatan operasioan pos PAUD di pindahkan ke rumah Bu Laras yang juga menjabat sebagai kepala sekolah. Bu Laras dan orang tua murid berharap agar pembangunan Pos Paud Anggrek IX ini benar-benar terealisasikan dan bukan sekedar wacana.

“Ibu-ibunya anak-anak pada nanyain kapan dibangun gedungnya, sedangkan desa sendiri nggak mau ngeluarin dana kalo nggak proposal yang jelas. Saya berharap sama kakak di sini dan harapannya gedung itu bisa di bangun, untuk lahan sendiri udah ada lahan yang saya waqafkan buat PAUD , jadi kalo udah ada dana mau di bangun sedikit demi sedikit aja.” Kira-kira begitulah komentar Bu Laras.
Nah, bagaiman tanggapan kakak-kakak semua mengenai masalah ini. Kita tunggu ya komentar-komentar positifnya.  :)

Salam Para Pengabdi
#BMTD_IPB2016

Rabu, 25 Mei 2016

[Selamat dan Semangat untuk Sidang Skripsi Kak Devi K Apriliani]



Assalamualaikum Wr Wb
Kami dari BMTD IPB mengucapkan selamat dan semangat atas sidang skripsi kakak kita:

Devi K Aprilianti (BMTD 49)
Mahasiswi Agronomi dan Hortikultura

dengan judul skripsi:
"Evaluasi Daya Hasil Hibrida Jagung Manis di Bogor"

Semoga dilancarkan sidangnya dan dimudahkan segala urusan, Aamiin
InsyaAllah sidang skripsi ini akan diadakan pada:

Waktu: Kamis, 26 Mei 2016 dari pukul 13.00
Tempat: Ruang Diskusi 7 W13 L4

#SelamatKakDevi
#KuyDoakan
#BMTD_IPB2016

===================
Blog: bmtdipb.blogspot.com
Facebook: Bidikmisi Turun Desa IPB
Twitter: @bmtd_ipb
Instagram: bmtd_ipb
Google+: @bmtd_ipb
Line@: @hcg2964d


Minggu, 22 Mei 2016

Turun Desa 22 Mei 2016


Hari ini, Minggu 22 Mei 2016 sama seperti Minggu-minggu sebelumnya, beberapa orang perwakilan dari kami turun desa dan memenuhi tanggungjawab kami untuk mengajar di Pos Paud Bidikmisi di Kampung Legok Nyenang, Gunung Bunder.
 Pukul 08.00 kami berkumpul untuk briefing mengenai teknis kegiatan belajar hari ini. Pukul 08.40 kami mulai berangkat ke tempat dengan menaiki sepeda motor sewaan. Agak menyeramkan memang, mengendarai sepeda motor mengingat jalananan di sana yang naik turun dan juga curam. Tapi rasa takut dan khawatir itu tertutupi rasa tak sabar untuk sampai ke Pos PAUD mengingat betapa besarnya semangat adek-adek di sana.
Pukul 10.30 kami sampai di  kecuali 1 motor lagi. Ya, rupanya mereka salah jalan dan tidak bisa menghubungi kami karena sinyal di sana yang kurang bagus. Walaupun ada kendala tapi kami tetap memulai pembelajaran di POS PAUD pukul 09.30 seperti yang kami jadwalkan. Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan membaca do'a dan perkenalan singkat sampai 15 menit kemudian teman kami yang salah jalan tadi sampai di Pos PAUD. Materi hari ini adalah tentang pentingnya menjaga kesehatan dan fokus kita adalah tentang "mandi". Dimulai dari membaca do'a sebelum masuk kamar mandi, waktu minimal mandi dalam sehari dan hal-hal apa saja yang diperlukan untuk mandi. Kami juga memutarkan film pendek anak-anak yang bersangkutan dengan pembelajaran hari ini. Semangat mereka semangat sangat tinggi, bahkan salah seorang anak bernama Wildan sudah fasih dalam membaca do'a sebelum masuk kamar mandi.
 Selain mengajarkan untuk menjaga kesehatan, kami tak lupa untuk mengajarkan membaca dan menulis huruf alpabet. Kami terkagum kepada salah seorang anak yang bernama Sarah berusia 5 tahun yang sangat cepat dalam menangkap pelajaran, bahkan dia berhasil menghafal dan menulis 5 huruf baru disaat kami baru mengajarkan 2 huruf kepada anak yang lainnya.
 Kegiatan belajar mengajar selesai jam 11.30 dan diakhiri dengan berdoa kemudian foto bersama. Selesai mengajar kamipun sholat Dzuhur kemudian berdiskusi dengan kepala sekolah PAUD untuk membicarakan perkembangan PAUD. Banyak yang kami diskusikan  , mengenai bangunan PAUD yang masih menggunakan rumah bu RT, mengenai kurikulum dan yang paling utama tentang harapan warga desa dengan di bangunnya Pos PAUD gratis di desa mereka. Diskusi ini membuat kami sadar bahwa kami dibutuhkan di sini dan kami pulang dengan semangat baru beserta beberapa rencana untuk memaksimalkan pengabdian ini.

#semangatmengabdi
#BMTDberaksi

Sabtu, 21 Mei 2016

Memberi iming-iming hadiah untuk menarik perhatian peseta didik, perlu kah?


Di dunia pendidikan, baik formal atau pun non-formal terkadang seberapa tertarik peserta didik dengan pengajarnya menjadi indikator seberapa bagus tenaga pengajar tersebut mengajar. Pengajar yang mampu menarik perhatian dianggap sebagai pengajar yang memiliki karisma yang akan berdampak positif terhadap konsentrasi peserta didik dalam memahami pelajaran. Tak dapat dipungkiri memang, andaikan kita adalah seorang guru yang tengah berdiri di depan kelas, perhatian murid-murid menjadi indikator penting dalam penyampaian materi. Bila jiwa para murid belum terfokus sepenuhnya dalam ruang belajar, apa yang kita sampaikan di depan kelas tak semuanya dapat mereka pahami, apalagi diingat.

Untuk mencapai kesuksesan indikator ini terkadang seorang tenaga pengajar memberikan iming-iming balasan atau pun hadiah. Balasan ini bisa berupa hadiah dalam bentuk fisik seperti permen, atau non fisik seperti tambahan nilai di rapor. Menurut pengalaman penulis, memberikan hadiah sangat besar dampaknya dalam menarik perhatian siswa dalam belajar. Terlebih lagi bila hadiah yang diberikan berupa tambahan nilai di mata pelajaran tertentu, tak jarang siswa-siswa yang biasanya malas menjadi tertarik dengan pelajaran tersebut.

Namun kembali ke judul tulisan ini lagi, memberi iming-iming hadiah untuk menarik perhatian peseta didik, perlu kah?

Memang tidak ada salahnya memberikah hadiah atas usaha yang telah para siswa berikan. Namun, ada sedikit kelemahan bila memberi iming-iming hadiah ini sebelum para siswa berusaha terlebih dahulu memahami atau pun mengerjakan pelajaran yang tengah mereka pelajari. Secara tidak langsung kita sebagai tenaga pendidik mengajarkan mereka sifat pamrih dengan artian akan mengerjakan sesuatu bila ada balasannya. Tentu ini bukanlah sifat yang baik ditanamkan pada generasi-generasi penerus bangsa. Lalu bagaimakah solusinya? Atau apa alternatif lain untu menarik perhatian murid pada suatu pelajaran tertentu? Disinilah dibutuhkannya kreatifitas tenaga pengajar.

Kreatif yang penulis maksut disini bukan berarti bagaimana seorang pengejar mengejar seperti yang dilakonkan Amir Khan dalam filmnya yang fenomenal, 3 Idiot, dimana setiap ilmu yang didapatkan diterapkan pada sebuah praktek percobaan. Kreatif disini juga bukan berarti bagaimana seorang pengajar mengajar sambil bermain, menyelaraskan bakat para murid dengan cara belajarnya (misalkan anak yang hobi musi diajarkan pelajaran matematika sambil bermain musik). Tentu bila kita artikan kata kreatif dalam tulisan ini dengan artian tersebut akan susah bagi guru-guru di Indonesia yang notaben belum terlatih untuk menjadi seorang guru yang kreatif. Namun bila ada guru yang mampu seperti ini justru patut kita berikan apresiasi sebesar-besarnya. Lalu apa yang penulis maksut tentang kreatif disini? Yaitu bagaimana seorang tenaga pendidik memberikan sedikit tambahan hal yang berbeda dalam setiap mengajar. Contoh kasusnya seperti ini. Biasanya ada tenaga pendidik yang terfokus mengajar di depan kelas saja dan bila membuka forum diskusi, diskusi hanya terfokus di anak-anak yang duduk di barisan depan. Jadi untuk kasus ini alangkah lebih baik bila tenaga pengajar tersebut menciptakan hal baru saat ia mengajar seperti saat mengajar tidak hanya di depan kelas, namun sesekali berjalan ke barisan depan. Dan saat membuka forum diskusi, cobalah memberi perhatian lebih pada anak-anak yang duduk di barisan belakang. Diharapkan dengan sedikit tambahan hal yang berbeda atau dalam artian lain memberikan hal-hal baru dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar, seorang tenaga pendidik dapat menarik perhatian murid-muridnya tanpa harus memberikan iming-iming hadiah yang justru mengajarkan murid sifat pamrih.

Semoga tulisan ini bermanfaat
Salam pendidikan

=========================
Blog: bmtdipb.blogspot.com
Facebook: Bidikmisi Turun Desa IPB
Twitter: @bmtd_ipb
Instagram: bmtd_ipb
Google+: @bmtd_ipb
Line@: @hcg2964d